Kamis, 05 Januari 2012

penyakit yang disebabkan virus pada ternak ruminansia

JEMBRANA DIKETAHUI : KAB JEMBRANA (BALI) 1964 AWAL‐AWAL PENYAKIT : MORTALITAS DAN MORBIDITAS TINGGI Etiologi • Jembrana Disease Virus (JDV), famili retroviridae, sub‐famili lentivirinae. • RNA virus • serologis, bereaksi silang dengan Bovine Immunodeficiency virus (BIV) Epidemiologi • Insect borne • Tingkat dan perkembangan penyakit sejalan dengan perkembangan caplak. Penularan secara mekanis dapat terjadi melalui gigitan lalat, misalnya tabanus rubidus atau dapat juga melalui perantara jarum suntik. (pd kasus di lap. ‐‐‐ ONLY BALI CATTLE) Patogenesis • Non‐kontagious • Penularan melalui inokulasi darah atau jaringan yang tertular. • Masa tunas : 2‐10 hari , diikuti demam selama ±5 hari. • Agen penyakit akan menyebar keseluruh tubuh, terutama di dalam darah, limpa dan kelenjar limfe. Gejala Klinis • Pembengkakan lg, praescapularis dan praefemoralis • perdarahan di vagina • Trombocytofenia ‐‐‐‐ keringat darah • Erosi rongga mulut • Pembengkakan kantong empedu, hati. • Suhu 39‐41,50C, suhu diatas 400C berlangsung selama 3‐5 hari, kemudian diikuti penurunan suhu. Pd wkt suhu berada pd derajat sub‐normal sapi akan mati • Diare : Tinja lembek, profus s/d bercampur darah • Hewan bunting >6 bln ‐‐ keguguran Diagnosis • Gejala Klinis • Elisa ‐‐ antibodi • Diagnosa banding : Coryza & Rinderpest, SE ( lakukan pemeriks. Bakteriologik), l (l k k k p g ) Piroplasmosis lakukan pemeriksaan parasitologik) • Pemeriksaan secara histotologik memperlihatikan adanya nekrosa hebat pada limfosit‐limfosit. • Berdasarkan tanda‐tanda klinis dan perubahan patologi penyakit ini mirip dengan rinderpest, akan tetapi pemeriksaan lebih lanjut secara histopatologi tidak menyamai penyakit rinderpest. Pencegahan • Pencegahan : vaksinasi (booster dilakukan 1x sebulan) ‐‐‐ efektifitas • Isolasi hewan yg sakit • Hewan mati di kubur dalam‐dalam • Pemusnahan vektor : segera dan seksama (penyemprotan Pestisida dpt diulang 1‐2 mgg) • Pemotongan ternak sakit/tersangka sakit tidak dilarang ‐‐‐‐ dibawah pengawasan dokter hewan yang berwenang. Pengobatan • Pengobatan : Dapat dicoba dg memberikan obatan‐obatan Ab.LA (sedini mungkin) dan vitamin—hasil tidak memuaskan • Dijelaskan kpd peternak ‐‐‐ Kematian masih mungkin terjadi PENYAKIT MULUT DAN KUKU (PMK) • Nama lain : Foot and Mouth Disease (FMD), Aphtae Epizooticae (AE) • DIKETAHUI : MALANG (1887), MENYEBAR CEPAT HAMPIR KESELURUH WIL DI INDONESIA • MULAI TAHUN 1986 INDONESIA DINYATAKAN SEBAGAI NEGARA BEBAS PMK (DIAKUI OIE BARU TAHUN 1994). Etiologi • Enterovirus (RNA virus yg diselubungi protein, rantai tunggal) • Famili Picornaviridae • Φ : 10‐20 mμ • Sangat labil • Antigenitas cepat dan mudah berubah • Tidak tahan asam (ph <6) dan alkalis (ph >9) • Tidak tahan panas dan Sinar UV • Tidak tahan bahan desinfektan, kecuali Sodium hydroxide, sodium carbonate dan acetic acid Immunologis, terdapat 7 tipe dan sub tipe 1. O (Oise) (0,11) 2. A(Allemagne) ( A,23 ) 3. C (carre) (C,2) 4. SAT1 (South African Territories) (SAT1,7) 5. SAT2 (SAT2,3) 6. SAT3 (SAT3,4) 7. Asia1 (Asia1,3) Epidemiologi • Aerosol (food borne disease) • Kontak : dari ekskresi dan sekresi, air susu, semen dan produksi (daging, tulang), cairan esophageal (bahkan sapi penderita PMK yg tlh dinyatakan sembuh, dlm sel‐sel tonsiler msh mengandung virus sampai 3 tahun). – Hewan rentan Menyerang hewan berkuku genap : • Sapi, kambing, domba, kerbau, gajah, jerapah, menjangan, kangguru, dll. • Penyakit akut dan sangat menular • Morbiditas Tinggi, mortalitas rendah 5%‐ 50% ‐‐‐‐ hewan muda – Pengaruh Lingkungan Tahan berbulan‐bulan : • Bahan‐bahan yang mengandung protein, kering dan dingin Tahan lama : • Darah, ss.tlg, kelj.limpa, semen, epithel. Cepat mati : daging (mdh mengalami asam) Carrier : sumber penularan • Babi ‐‐‐ bukan carrier, ttp sumber produktif • Carrier lama : Domba : 8 mgg Kerbau : 6 bl – 2 th • Sapi : 2 thn Gejala klinis – Semua sub tipe menunjukkan gejala yang sama – Gejala Umum : perubhn perilaku seperti mengecap bibir danlidah, salivasi, mengangkat kaki, lesu, tidak mau berdiri – 24‐48 jam pasca infeksi ; demam 410C (viremia), hipersalivasi, nafsu makan turun, penurunan prod.susu drastis. – Khas : Lepuh, penonjolan berisi air – Lepuh primer : 1‐5 hari post inf (lepuh >1, Φ 0,5‐10 cm) – Lepuh sekunder : ditempat yg mendpt tekanan (putting susu, ambing, kaki, vulva, scrotum, dan cungur. – Bbp lepuh bersatu : rongga mulut, lidah atas, bibir dalam, gusi, langit‐langit, kadang‐kadang pd selaput mata. Diagnosis • Epizoologi, gejala klinis, PA, isolasi virus, serologi (CFT, Netralisasi) • Deff. Diag : – Vesicular Exanthema (hy pd ternak babi, blm ada laporan di Indonesia) – Vesicular stomatitis (morbiditas rendah dan dpt menyerang hwn berkuku satu (kuda, keledai, dsb) – Rinderpest (morbiditas dan mortalitas tinggi, perdrhan umum disertai erosi, dan nekrosis pd kelj.limfe. Di Indonesia sdh lama diberantas) – Mukosal disease (morbiditas rendah, diare berdarah dan nekrosis jaringan sekitar mulut) Pencegahan dan Pengobatan Pencegahan : • Vaksinasi dan pengawasan lalu lintas hewan • Hewan yg divaksin atau berhasil sembuh ‐‐‐‐ kekebalan 4‐12 bln (hwn yg kebal thd 1 sub tipe tdk akan kebal dg subtipe lain) Pengobatan : • Tdk dilakukan, krn tidak ada hasil. MALIGNANT CATTARHAL FEVER (MCF) Malignant = ganas Cattarhal = kerusakan pada selaput Lendir Nama Lain • penyakit ingusan : • coryza gangraenosa bovum • snotsiekte • Bovine Malignant Catarrh (BMC) • penyakit makan tanah. • Penyakit y akut pada sapi dan kerbau • Di Indonesia sejak 1894. PASZOTTA melaporkan adanya kasus di Kediri. • Mortalitas penyakit tinggi, morbiditas rendah • Kejadian tinggi pada sapi yang dicampur dengan domba • Di Afrika Selatan dikenal dengan sebutan snotsiekte, dengan wildebeest biru/hitam sebagai pembawa penyakit (carrier). • Di Kenya dan negara lain domba bertindak sebagai carrier Etiologi • Herpes virus • Sangat labil terhdp proses beku cair (freezing and thawing) • Di dalam daerah bersitrat : tahan beberapa hari pada suhu 50C, tapi pada suhu ‐600C dalam keadaan kering beku tahan 1 minggu. • Dalam gliserin 50% : 7 hari. • Virus yang terdapat diluar sel akan cepat mati, sedangkan didalam sel akan tahan lebih lama. • Isolasi virus sulit karena sifat virus yg rapuh. Epidemiologi • Menyerang ternak segala umur • Sapi Bali (bos banteng) sangat rentan • Kejadian bersifat sporadis • Di Afrika Selatan penyakit pada sapi sering dihubungkan karena kontak dengan wildebeest atau dengan domba. • Penularan alami antara sapi—sapi tidak/sulit Terjadi • Beberapa kejadian pada sapi Bali, menimbulkan kematian yang tinggi, yang telah berkontak dengan domba yang melahirkan. • Pengamatan di AS menunjukkan bhw sapi‐sapi yang sembuh dari sakit dapat bertindak sbg carrier, hal ini dikarenakan kejadian penyakit dapat terjadi beraturan, meskipun tanpa adanya kontak dengan domba Patogenitas • Virus bersifat cell‐associated (tdk dapat bertahan lama pada lingkungan terbuka) • Penularan diduga melalui mulut • Studi mengenai patogenesis penyakit dilakukan dengan virus yang diperoleh dari Gnu • Anak sapi dapat ditulari dgn virus bebas atau suspensi sel‐sel kelenjar limfe yang mengandung virus • Pada Gnu, penularan Intra Uterine (IU) dapat terjadi dan anak yang dilahirkan menjadi penyebar virus bagi Gnu lain yang berumur 5‐ 6 bulan • Viremia pada hari 8‐17 pasca infeksi pada sapi percobaan • Gejala klinis pertama terlihat 3 hari – 3 minggu sesudah permulaan viremia Gejala Klinis • Konjunctivitis dan kekeruhan kornea pada awal penyakit • Rinitis dgn eksudat mukopurulent/mukoid • Cermin hidung kering • Mukosa mulut hiperemis disertai nekrosa setempat pada permukaan epitelium • Kekeruhan kornea dapat meluas dari perifer ke tengah dan dapat berakhir dengan kebutaan karena kornea menjadi putih keruh • Pada kasus yang berat, rhinitis dapat menjadi berat dan terjadi pengeluaran getah radang hidung berupa nanah bercampur lendir yang tebal dan berbau. • Cermin hidung dapat menjadi sobek dan tertutup oleh masa nekrotis. • Diare sering terlihat pada awal penyakit • Kelenjar limfe perifer membesar (tdk menyolok) • Mungkin terjadi Uremia • Pada gejala otak hewan akan terlihat gelisah, berbaring dengan kepala dan leher terbentang ke muka sedangkan tungkai muka dan belakang bergerak seakan‐akan naik sepeda • Kematian dapat terjadi sesudah 7‐14 hari Diagnosis • Berdasarkan gejala klinis ? • Pemeriksaan serologik hanya dapat ditentukan untuk penyakit ingusan bentuk Af‐Sel. • Diagnosa banding ; Jembrana, BVD‐MD, dan IBR. • Jarang disertai keratitis dan radang pada mulut • Rata‐rata hewan sakit dapat sembuh kembali • Terjadi pada hewan muda dari pada hewan Tua BOVINE VIRAL DIARRHEA (BVD) (Bovine viral diarrhea‐mucosal disease/BPD‐MD) PENDAHULUAN • Penyakit pada sapi yang berumur 6‐24 bulan • Hewan rentan lain : Domba, Kambing, Kerbau dan Menjangan • BVD terdapat di Benua Afrika, Asia, dan Australia • Di Indonesia ada sejak zaman penjajahan Etiologi • Pestivirus (fam.Togaviridae) • RNA virus • Peka terhadap asam, chloroform dan tripsin • Pada batas‐batas tertentu bersifat Termostabil Epidemiologi • Terdapat diseluruh dunia • Penularan : kontak langsung dan tidak langsung (melalui makanan yg terkontaminasi tinja), virus juga terdapat pada urine sapi penderita. • Dapat juga melalui aerosol Patogenitas • Viremia berlangsung slm 15‐60 hari post infeksi. • Plasenta barier, janin dapat menjadi seropositif pd kebuntingan 7 bulan. • Immunosupresi Gejala Klinis • Bentuk Sub‐klinis • Bentuk Akut • Bentuk Sub‐akut/kronis • Bentuk Neonatal Bentuk sub-klinis • Demam tdk terlalu tinggi • Leukopenia • Diare ringan • Serologis --- titer Antibodi tdk tinggi Bentuk akut – Umum menyerang pd sapi-sapi berumur 6-24 bl – Penyakit berlangsung 1-30 hari (2-3 minggu) – Demam spi 420C pd puncak akhir – Hewan lesu, nafsu makan hilang, dan gerakan rumen menurun--- terjdnya bloat – Prod air susu terhenti atau merosot – Diare profus – Trombositopenia • Pada keadaan demam yg tinggi, anoreksia dan diare akan terjd dehidrasi, yg akan mengakibatkan asidosis, hipokloremia dan hipokalemia. Karena asidosis maka freq. respirasi akan meningkat • Ingus mukoid/mukopurulent, adanya lesi dlm mukosa hidung, bau nafas dan mulut tdk enak. • Pada rongga mulut : erosi pd lidah, gusi dan mukosa pipi --- hipersalivasi • Kluron dapat terjd 5% pd kasus BVD • Penderita yg tidak thn akan mati dlm waktu 1- 2 minggu Bentuk subakut/kronik • Diare intermiten • Kurus • Kembung rumen kronik • Erosi mukosa mulut dan kulit kronik • Pertumbuhan terhambat Bentuk neonatal • Sering pd pedet dg umur < 1 bulan (berasal dr induk yg mempunyai kekebalan yg rendah atau dari induk yg sakit) • Suhu tinggi • Diare • Gangguan pernapasan • Infeksi prenatal akan terjd sindrom pedet lemah, selain kelemahan umum pedet yg baru lahir terus mengalami diare. Diagnosis • Berdasarkan gejala klinis • Perubahan dalam seksi • Pemeriksaan Lab. Pengobatan • Supportif terapi (pemberian cairan elektrolit) • Antibiotik broad spektrum ‐‐‐‐ infeksi sekunder • Analgesika • Antiperetik INFECTIOUS BOVINE RHINOTRACHEITIS (IBR) (Rhinotracheitis infectiosa bovis) Nama lain ; Infectious pustular vulvovaginitis (IPV) atau exanthema coitale atau balanopostitis menular pada sapi Penyakit yg menyerang sapi umur > 6 bulan Penyakit pernafasan bagian atas yang berjalan akut dengan disertai panas yang tinggi. Etiologi • Bovine Herpesvirus tipe 1 (BHV‐1) (fam.Herpetoviridae) • Virus termostabil • Peka terhdp pelarut lemak, t.u chloroform • Peka terhdp sinar U.V. • Tdk tahan pH <5.0 Epidemiologi • Di Indonesia dilaporkan adanya reaktor pd sapi dan kerbau di SUMUT, Jawa, Lombok, Sumbawa dan Timor (Sarosa, 1985) • Antibodi kolostrum ‐‐ melindungi pedet s/d 6‐ 8 bulan • Penyebaran scr kontak • Morbiditas 30‐90% : mortalitas 3% Patogenitas • Viremia ‐‐‐ bersarang dlm organ tubuh • Manifestasi klinis : Bentuk respiratorik, konjunctiva, genital dan keluron, ensefalik (syaraf) dan neonatal Gejala Klinis Bentuk respiratorik • Masa tunas 3‐7 hari • Gejala paru‐paru ‐‐‐ preq.respirasi (sbentar), selanjutnya akan diikuti suhu tubuh s/d ≥420C • Hipersalivasi • Lakrimasi • Busung pd konjunctiva • Sapi laktasi : produksi air susu turun – terhenti sama sekali • Peradangan pd hidung, sinus, tenggorokkan • Mukosa hidung hiperemik (red nose) • Keadaan lbh berat ingus fibrinoid atau purulen kental • Susah bernafas dan leher dijulurkan (timbunan ingus kental) • Kluron pd trimester terakhir Bentuk konjunctiva • winter pink eye (pada daerah musim dingin) • Oedema kornea dan konjunctiva ‐‐‐ eksudat serous – mukopurulen • Penyakit keratokonjunctivitis menular pd sapi btk IBR konjunctiva Bentuk ensefalik (syaraf) • Sering terjd pd penderita berumur 2‐3 bulan • Virus berkembang dl otak ‐‐‐ meningoensefalitis • Tanda2nya : hiperestesi, eksitasi dan Inkoordinasi Bentuk genital dan kluron • Pd betina terjd inf pd mukosa vagina dan vulva – infectious pustular vulvovaginitis (IPV). • Pd jantan inf di alat kelamin jantan ‐‐‐ balanopostitis • Inf. Akut 2‐3 hari setelah kopulasi • Terbentuk pustulae ‐‐‐ pecah ‐‐‐ berbentuk bercak nekrotik • Kluron dpt terjd pada trimester terakhir • Virus banyak ditemukan dlm hati dan ginjal janin yg Digugurkan Bentuk neonatal • demam, anoreksia, depresi, dyspnoe • eksudat sereus dari mata • diare persisten • inf yg berlangsung mli dari kandungan, akan diakhiri dg kematian. Diagnosis • Berdasarkan anamnese • Gejala klinis • Pemeriks pasca mati • Pengenalan virus : FAT Pencegahan, Pengendalian dan Pemberantasan • Sapi yang pernah terkena infeksi ‐‐‐ carrier. • stress ‐‐‐ virus memperbanyak diri‐‐‐‐siap ditularkan ke sekitarnya. Dalam kondisi ini gejala klinis belum teramati. • Program vaksinasi : vaksin aktif (attenuated) dan vaksin inaktif (killed) [RhinoVet]. • Hewan yang akan divaksin, pedet sedikitnya harus berumur 1 minggu. Pedet < 1 minggu biasanya tidak tahan terhadap vaksin IBR (Johnson, 1980 dalam Subronto, 1993). • Vaksin IBR hanya memberikan perlindungan beberapa bulan, bila kemudian terjadi lagi penularan maka penambahan virus tidak akan terhindarkan, walaupun hewan yang terinfeksi secara klinis tidak begitu sakit. Terapi • Penderita ‐‐ diisolasi • Antibiotik ‐‐‐ spektrum luas‐‐‐ mencegah infeksi sekunder. • Supportif terapi : cairan elektrolit dan vitamin. • Preparat kortikosteroid merupakan kontra virus. Bovine Ephemeral Fever (BEF) Pendahuluan • Penyakit yang demam yg bersifat akut disertai pd sapi • Morbiditas tinggi, mortalitas rendah • Dilapangan kerbau dapat juga terserang scr ringan • BEF terdapat di Benua Afrika, Asia, dan Australia • Di Indonesia ada sejak zaman penjajahan Etiologi • Arbovirus (fam.Rhabdovirus) • Virus dapat ditularkan oleh serangga Epidemiologi • Vektor ‐‐‐‐ nyamuk Culicoides • Non‐kontagious • Dalam kejadian yg bersifat klinis viremia hanya berlangsung dlm waktu pendek 1‐3 hari, setelah itu diikuti dengan pembentukan antibodi. • Angin yg bersifat lembab dan basah dapat memindahkan serangga sejauh 100 km atau lebih. Patogenitas • Dalam percobaan terbukti masa tunas penyakit 2‐10 hari, dan penderita memperlihatkan gejala dl waktu 2‐4 hari. • Perkembangbiakan virus : sel retikuloendotelial paru‐paru, limpa, kelenjar limfe. Virus terikat dg sel darah putih dlm darah. Gejala Klinis • Demam dg kenaikan suhu 2-40C selama 1-4 hari • Gemetar • Nafsu makan dan minum hilang • Freq.respirasi dan jantung meningkat • Konstipasi atau diare • Pd hwn produksi : produksi air susu menurun • Leleran hidung dan mata • Hipersalivasi • Kepincangan terlihat sesudah terjadinya demam (dapat berpindah dari satu kaki kekaki yg lain) • Beberapa penderita tetap akan sanggup berdiri dan yg terbanyak akan tiduran slm 2-3 hari. Ketidaksanggupan berdiri spi 1 minggu akan berlanjut dg paresis • Angka kematian < 1%. Diagnosis • Berdasarkan anamnese • Lab : netrofilia dan limfopenia Pencegahan • Pencegahan terhadap BEF dapat dilakukan dengan cara vaksinasi, baik live vaccine (vaksin aktif) maupun killed vaccine (vaksin inaktif). Vaksin aktif akan memberikan kekebalan selama 12 bulan setelah diberikan dosis ke‐2, sedangkan vaksin inaktif hanya memberikan selama 6 bulan. • Mencegah penyebaran BEF‐‐‐ pengendalian spesies serangga vektor BEF Terapi • Tidak ada pengobatan yang efektif • Hindarkan terjadinya komplikasi sekunder untuk memperparah keadaan. • Pada fase akut dimana terlihat gejala hewan tidak mau minum, pemberian air minum jangan dengan alat (drench), karena penderita biasanya akan mengalami kesukaran dalam menelan, sehingga pemberian secara paksa kemungkinan dapat memperparah keadaan hewan. ORF Sinonim • Contagious pustular dermatitis • Contagious echtyma • Sore mouth • Scabby mouth • Infectious labial dermatitis • Infectious peristomatitis • Bengoran • Dakangan Pendahuluan • penyakit yang sangat menular pada kambing dan domba • mengakibatkan penurunan berat badan kematian pada anak domba • zoonosis Etiologi • parapox virus • tahan terhadap pengaruh udara luar dan kekeringan • tetap hidup diluar sel selama beberapa bulan • tetap hidup beberapa tahun pada keropeng kulit • pada To kamar tahan 15 tahun Hewan Rentan • Domba dan kambing • Kekebalan yang ditimbulkan dalam jangka waktu lama : • daerah enzootic, penyakit terjadi hanya pada hewan‐hewan muda • daerah baru terserang, penyakit dpt terjadi pada segala umur Penularan • kontak : luka‐luka kulit waktu menyusui, kontak kelamin/kontak dengan bahan‐bahan yang mengandung virus • pada manusia : kontak dengan hewan yang sakit/bahan‐bahan tercemar oleh penyakit. Gejala Klinik • masa inkubasi 2 hari • radang pada kulit sekitar mulut, kelopak mata, alat genital, ambing pada hewan yang sedang menyusui dan medial kaki, tempat‐tempat yang jarang ditumbuhi bulu. • Radang, akan menyebabkan erithema (lepuh‐lepuh pipih yang mengeluarkan cairan), selanjutnya akan membentuk kerak yang mengelupas setelah 1‐2 minggu kemudian • Apabila lesi hebat maka pada bibir yang terserang menyerupai bunga kol Pengobatan • AB broad spectrum • Keropeng dikelupas, oleskan Iod. Tinctur 5% • Multivit

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar