Jumat, 23 Desember 2011

BUDIDAYA RUMPUT RAJA/KING GRASS.

OLEH AHMAD MUJAHIDIN E1E108010 PROGRAM STUDI PRODUKSI TERNAK FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU 2010 PENDAHULUAN Latar Belakang Penyediaan pakan hijauan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam usaha peternakan ternak ruminansia (sapi, kambing, kerbau dan domba). Adapun macam pakan hijauan unggul yang ada diantaranya terdiri dari bangsa rerumputan unggul dan kacang-kacangan (legume). Dintara bangsa rerumputan yang paling tinggi produksinya adalah rumput Raja/King Grass. Sebagai pengantar salah satu elemen terpenting dalam bisnis usaha penggemukan dan pembibitan ternak (baik, sapi , kambing , maupun domba) adalah tersedianya hijauan makanan ternak, meskipun pada sapi potong ini tidak mutlak. akan tetapi dari beberapa penelitian menjelaskan bahwa sapi-sapi yang hanya diberi jerami saja selama 5 bulan akan menimbulkan kebutaan pada sapi. Oleh karena itu peran hijauan sangat penting dalam menunjang kebutuhan nutrisi dan pro vitamin A yang tidak terdapat pada jerami kering lebih-lebih sapi perah. Kebutuhan ternak sapi akan hujauan segar menurut perkiraan kasar yaitu 10% dari berat badan per hari per ekor. Apabila berat seekor sapi perah 600 kg, maka kebutuhan hijauan per hari adalah 60 kg, jadi kebutuhan akan hijauan per tahun 365 x 80 kg = 21,9 ton. Berdasarkan perhitungan tersebut berarti rumput Raja dapat menampung 49 ekor sapi perah/ha/tahun secara potong angkut. King grass mempunyai keunggulan dibandingkan dengan rumput gajah, antara lain tumbuh lebih cepat memiliki tunas yang lebih banyak, produksi lebih tinggi dan memiliki batang yang kadar serat lebih rendah sehingga dapat dipotong pada tingkat pertumbuhan yang lebih menggunakan potongan batang (stek) atau sobekan rumput. Rumput Raja merupakan tanaman yang cukup baik untuk kebutuhan hijauan pakan ternak, baik dilihat dari tingkat pertumbuhan, produktivitas hasil panen maupun nutrisi (terutama kandungan serat) yang terkandung di dalamnya. Lain daripada itu, selain sebagai hijauan segar, surplus produksi rumput Raja juga dapat digunakan sebagai cadangan pakan dalam bentuk kering (hays) ataupun fermentasi dengan metoda silase setelah terlebih dahulu dicacah. Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah agar lebih memahami cara pemilihan lokasi, pentahapan kerja, kebutuhan bibit rumput, perawatan rumput Raja, dan pemotongan (defoliasi) rumput Raja. TINJAUAN PUSTAKA Rumput raja adalah jenis rumput baru yang belum banyak dikenal, yang merupakan hasil persilangan antara pennisetum purpereum (rumput gajah) dengan pennisetum tydoides, rumput ini mudah ditanam, dapat tumbuh dari dataran rendah hingga dataran tinggi, menyukai tanah subur dan curah hujan yang merata sepanjang tahun. Produksi rumput ini jauh lebih tinggi dibandingkan rumput lainnya (Anonim, 2010). Rumput Raja (Pennisetum purpureophoides) atau "King Grass" merupakan jenis rumput unggul, mudah ditanam dan dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi dengan potensi produksi yang tinggi. Tidak semua bahan hijauan dapat dimakan oleh ternak kecil. Umur hijauan pada saat dipangkas mempengaruhi kadar protein, daya cerna dan jumlah yang dikonsumsi oleh ternak. Komposisi zat hara rumput Raja tidak banyak berbeda dibandingkan dengan rumput Gajah. Tetapi karena produksi bahan hijauan maupun bahan keringnya tinggi, maka produksi zat-zat makanan per satuan luas menjadi lebih tinggi. Pada lahan kritis, usaha ternak dengan tanaman industri dan atau buah-buahan tampaknya lebih menjanjikan keberhasilan. Tanaman pangan hanya ditanam pada masa awal saja, atau dengan porsi kecil bila petani merasa perlu untuk menjamin keamanan pangannya. Dengan penataan tanaman pakan dan tanaman tahunan yang serasi, laju erosi dapat dikendalikan (Agus, Ramada. 2008). Rumput Raja hibrida atau King grass (Pennisetum purpuroides) adalah hasil hibridisasi yang merupakan hibrid inter spesifik. Rumput Raja mempunyai karakteristik tumbuh tegak berumpun-rumpun, ketinggian dapat mencapai kurang lebih 4 m, batang tebal dan keras, daun lebar agak tegak, dan ada bulu agak panjang pada daun helaian dekat liguna. Permukaan daun luas dan tidak berbunga kecuali jika di tanam di daerah yang dingin. Rumput Raja dapat di tanam di daerah yang subur di dataran rendah sampai dataran tinggi, dengan curah hujan tahunan lebih dari 1.000 mm (Septiana, 2010). Menurut Reksohadiprodjo (1984), rumput raja mempunyai sistematika sebagai berikut : a. Phyllum :Spermatophyta. b. Sub Phyllum :Angiospermae. c. Classis :Monocotyledoneae. d. Ordo :Glumiflora. e. Familia :Gramineae. f. Sub Familia :Panicurdeae. g. Genus :Pennisetum. h. Species :Pennisetum hibrida/Pennisetum purporoides. Produksi hijauan rumput Raja dua kali lipat dari produksi rumput Gajah, yaitu dapat mencapai 40 ton rumput segar/hektar sekali panen atau setara 200-250 ton rumput segar/hektar/tahun. Mutu hijauan rumput raja lebih tinggi jika dibandingkan dengan rumput gajah Hawai ataupun rumput Afrika. (Agus, Ramada. 2008). Batang dan daunnya berukuran paling besar dibandingkan dengan rumput lainnya, oleh karena itu disebut sebagai King Grass. Rumput Raja memiliki batang yang keras dengan daun berbulu kasar serta memiliki bercak berwarna hijau muda. Produktivitas Rumput Raja jauh lebih tinggi dari rumput-rumput unggulan lainnya, serta mempunyai kandungan zat makanan yang cukup bergizi. Menurut hasil penelitian, didapat data sebagai berikut : 1. Produksi hijauan segar: 1076 Ton/ha/tahun 2. Produksi bahan kering : 110 Ton/ha/tahun 3. Prosentase perbandingan batang dan daun pada hijauan segar = 48 : 52 4. Prosentase perbandingan batang dan daun pada bahan kering = 32 : 68 (Wibisono, Abrianto Wahyu. 2010). Sedangkan kandungan zat makanan yang ada dalam rumput Raja adalah : 1. Protein kasar = 13,5% 2. Lemak = 3,5 % 3. NDF = 59,7% 4. Abu = 18,6% 5. Ca = 0,37% 6. P = 0,35%. (Wibisono, Abrianto Wahyu. 2010). BAHAN DAN METODE Bahan dan Alat Bahan Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah rumput Raja (Pennisetum purpureophoides), dan pupuk. Alat Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah lahan, cangkul, dan parang. Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin-Sabtu, tanggal 20 April 2010-12 Juni 2010 pada pukul 16.25-18.05 WITA. Bertempat di Lahan Praktikum Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Prosedur kerja Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum ini adalah sebagai berikut: 1. Pemilihan lokasi untuk menanam rumput Raja (Pennisetum purpureophoides) dan melakukan pemilihan bibit 2. Melakukan pengolahan lahan (pembersihan lahan, pencangkulan, penggemburan, dan penanaman). 3. Melakukan perawatan rumput Raja (Pennisetum purpureophoides) meliputi pemupukan dan pengairan. 4. Melakukan pemotongan (defoliasi) rumput Raja (Pennisetum purpureo-phoides). HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil dari praktikum yang telah dilaksanakan, maka diperoleh data sebagai berikut: Rumput Raja (Pennisetum purpureophoides) atau King Grass Pembahasan Penanaman rumput King grass (Pennisetum purpuroides) pada praktikum yang kami laksanakan dilakukan dengan metoda perbanyakan vegetatif. Cara yang umum diterapkan adalah dengan stek batang dan memecah anakan. Cara yang pertama memungkinkan perbanyakan dengan lebih cepat, namun agak sedikit lebih lambat pertumbuhannya dibandingan dengan cara anakan atau pols. Cara penanaman yang dilakukan adalah sebagai berikut: A. Pemilihan Lokasi 1. Sumber air, karena air merupakan salah faktor yang sangat vital pada saat masa pertumbuhan Rumput Raja. Suplai air diperlukan bagi daerah yang sering mengalami kemarau. 2. Kesuburan Tanah. Perlu diketahui keadaan tanah untuk diperhitungkan unsur-unsur hara, apa dan berapa banyak yang perlu ditambahkan. Tanah dengan pH diatas 7 sebagai tanah alkalis (basa). Untuk menaikan pH tanah dapat ditambahkan kapur, sedangkan untuk menurunkan pH tanah dapat digunakan pupuk yang mengandung sulfur (ZA). 3. Topografi. Rumput ini mudah ditanam dan dapat tumbuh dari dataran rendah sanpai dataran tinggi. Topografi ini penting dalam perencanaan peggunaan alat mekanisasi (perencanaan pengolahan lahan) dan sistem penanaman rumput. Jika menggunaan traktor pada kemiringan tanah sampai 180 sudah tidak efektif lagi. Disamping itu semakin tinggi derajat kemiringan tanah semakin rendah efisiensi penggunaan pupuk dan membutuhkan upaya keras untuk mempertahankan kelestarian kesuburan tanah. B. Pentahapan Kerja 1. Pemilihan Bibit. Penggunaan bibit yang baik berarti efisiensi waktu, tenaga dan biaya serta jaminan memperoleh pertumbuhan yang baik, apabila faktor-faktor lain tidak menghambat. Stek diperoleh dari potongan batang yang cukup umur dan sehat, minimum terdiri dari 2 mata dan atau panjang 30 cm. Dapat lebih tahan lama disimpan ditempat yang sejuk. Apabila menggunakan rumpun anakan (sobekan akar/pols), pilih yang sudah mempunyai tinggi sekitar 20 – 25 cm. 2. Waktu Pengolahan Tanah dan Penanaman. Pertumbuhan awal sangat peka terhadap pengaruh luar, terutama keadaan air dan suhu. Pada tanah tanpa irigasi pengolahan tanah dilakukan pada musim hujan. Namun jarak yang terlampau lama antara akhir pengolahan dan penanaman dapat menyebabkan tanah tersebut memadat kembali. 3. Pengolahan Tanah dan Penanaman. Pengolahan tanah bertujuan untuk mempersiapkan media tumbuh yang optimum bagi suatu tanaman. Adapun urutannya sebagai berikut : a. Pembersihan lahan. Membersihkan lahan terhadap pohon, semak belukar atau tanaman lainnya. b. Pencangkulan/pembajakan. Bertujuan memecah lapisan tanah menjadi bongkahan untuk mempermudah penggemburan selanjutnya. Dengan membalik lapisan tanah tersebut dan membiarkan beberapa saat, diharapkan mineralisasi bahan organik berlangsung lebih cepat karena aktifitas mikro organisme dipergiat, sehingga tanah menjadi masak. Diusahakan kedalaman pencangkulan  40 cm. c. Penggemburan/penggaruan. Tujuan untuk menghancurkan bongkahan besar menjadi struktur yang lemah dan sekaligus membebaskan tanah dari sisa perakaran tumbuh-tumbuhan liar. Pada tanah yang miring, penggemburan dilakukan menurut kontur (contour) tanahnya, hal ini untuk memperkecil kemungkinan erosi. Setelah itu dibiarkan dahulu tanah tersebut  7 hari. d. Pemupukan dasar. Bersamaan dengan penggemburan perlu dilakukan pemupukan dasar (N, P dan K) dengan kebutuhan per hektar 80 kg TSP, 60 kg KCl dan 110 kg urea atau menggunakan 10 ton pupuk kandang/ha, 50 kg kcl dan 50 kg sp36/ha. e. Pembuatan parit/lubang tanaman. Dengan kedalaman 20 cm. Pada tanah dengan kontur miring, tidak perlu diolah, cukup dibuat lubang-lubang menurut kontur tanahnya sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi ganda sebagai penahan erosi. f. Penanaman. Pada daerah tanpa irigasi, penanaman dapat dilakukan setelah hujan pertama. Namun apabila masa istirahat selesai dan tanah sudah basah karena air, tanamkan bibit rumput Raja. Kalau menggunakan stek, penanamannya dengan cara memasukkan  ¾ bagian dari panjang stek dengan kemiringan  300 atau dapat juga ditanam seperti tanaman tebu, yaitu stek dimasukkan kedalam tanah secara terlentang. Sedangkan jika bibitnya memakai pols (sobekan akar), menanamnya seperti menanam padi, dengan kebutuhan setiap lubang 2 stek. Tujuh hari setelah penanaman, alirkan air secukupnya ke lahan tanaman tersebut dan lakukan penyulaman apabila terdapat stek atau pols yang mati. C. Kebutuhan Bibit Rumput. Dianjurkan menggunakan jarak tanam 60 x 100 cm, dengan 2 stek setiap lubangnya. Sehingga perkiraan kebutuhan bibit rumput dalam hampar tanah seluas 1 hektar sebanyak: (10.000m2 /0,60) x 2 stek = 33,332 stek. Apabila rata-rata 1 kg bibit rumput = 15 stek, maka perkiraan kebutuhan bibit rumput untuk 1 ha = 2.222 kg. D. Perawatan Rumput Raja. Perawatan dapat dilakukan dengan pendangiran dan pemupukan 3 - 4 kali pertahunnya atau pendangiran dilakukan setiap kali pemangkasan dan atau tergantung dari kondisi daerah masing-masing. 1. Pemupukan Rumput Raja. Pemupukan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur 2 minggu menggunakan urea dengan dosis 50 kg/ha. Selanjutnya pemupukan dilakukan ± 3-4 kali per tahunnya, dan setelah tiga kali pemotongan dengan dosis yang sama. 2. Pengairan Rumput. Pengairan dilakukan  7 hari setelah dilaksanakannya pemupukan. Dalam pelaksanaan ini harus diperhatikan jangan sampai kedapatan air yang menggenang sebab dapat menyebabkan kerusakan tanaman dan bahkan kematian tanaman. 3. Pendangiran Rumput. Adapun pendangiran rumput ini dapat dilakukan melalui 2 cara, yaitu: dengan cara membersihkan tanamanan liar, baru kemudian penggemburan tanah disekitarnya atau langsung dilaksanakan penggemburan tanah dengan cara pencangkulan disekitar rumpun rumput dengan membalikkan tanah tersebut. E. Pemotongan (defoliasi) Rumput. Rotasi pemangkasan rumput Raja dapat dilakukan pada umur 45 – 55 hari, namun disarankan pada umur 55 hari. Bertujuan untuk menyamakan pertumbuhan dan merangsang pertumbuhan jumlah anakan. Pemotongan berikutnya dilakukan sekali setiap 6 minggu, kecuali pada waktu musim kemarau waktu potong sebaiknya diperpanjang. Tinggi pemotongan 10-15 cm dari permukaan tanah. Hindari pemotongan yang terlalu tinggi karena akan banyak sisa batang yang mengayu (keras). Demikian juga jangan dipotong terlalu pendek, karena akan mengurangi mata atau tunas muda yang tumbuh. F. Peremajaan Rumput. Peremajaan rumput dapat dilakukan setelah tanaman tersebut mencapai umur 3 – 4 tahun atau setinggi-tingginya 4,5 tahun. Hal ini tergantung situasi dan konsidi daerahnya. Sedangkan pelaksanaannya dapat dilakukan secara bertahap, yaitu diantara rumpun lama ditanam stek atau pols baru, setelah tanaman tresebut mulai tumbuh dengan baik, maka rumpun lama dibongkar. Begitu seterusnya sehingga kebutuhan runput potongan tetap tersedia. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Rumput Raja (Pennisetum purpureophoides) atau "King Grass" merupakan jenis rumput unggul, mudah ditanam dan dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi dengan potensi produksi yang tinggi. 2. Pemilihan lokasi mengenai kesediaan sumber air, kesuburan tanah, dan topografi. 3. Pentahapan kerja meliputi pemilihan bibit, waktu pengolahan tanah dan penanaman, pengolahan tanah dan penanaman (pembersihan lahan, pencangkulan/pembajakan, penggemburan/penggaruan, pemupukan dasar, pembuatan parit/lubang tanaman, dan penanaman). 4. Dianjurkan menggunakan jarak tanam 60 x 100 cm, dengan 2 stek setiap lubangnya, sehingga kebutuhan bibit rumput untuk 1 ha = 2.222 kg. 5. Perawatan rumput Raja terdiri dari: pemupukan rumput Raja, pengairan rumput Raja, dan pendangiran rumput Raja. 6. Pemotongan (defoliasi) dengan rotasi pemangkasan rumput Raja dapat dilakukan pada umur 45 – 55 hari, namun disarankan pada umur 55 hari. 7. Peremajaan rumput dapat dilakukan setelah tanaman tersebut mencapai umur 3 – 4 tahun atau setinggi-tingginya 4,5 tahun. Saran Praktikum selanjutnya sebaiknya praktikan lebih diawasi dan dibimbing dalam melaksanakan penanaman dan perawatan King Grass (Rumput Raja) sehingga dapat menghasilkan King Grass (Rumput Raja) dengan produktivitas yang tinggi. DAFTAR PUSTAKA Agus, Ramada. 2008. King Grass-Rumput Raja. http://dombagarut.blogspot.com. Diakses pada tanggal 13 Juni 2010. Anonim. 2010. King Grass (Rumput Raja). http://serdangbedagaikab.go.id. Diak-ses pada tanggal 13 Juni 2010. Reksohadiprodjo. 1984. Pengantar Ilmu Peternakan Tropik. Fakultas Peternakan, UGM: Yogyakarta. Septiana. 2010. Rumput Raja/Pennisetum Hibrida. http://septinalove.blogspot.-com. Diakses pada tanggal 13 Juni 2010. Wibisono, Abrianto Wahyu. 2010. Rumput Raja Hijauan Pakan Sapi. Http://du-niasapi.com. Diakses pada tanggal 13 Juni 2010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar